Monday, April 11, 2011

Ledakan Penduduk

Biarpun menurut undang-undang BKKBN sudah berubah menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, lembaga yang mengurusi masalah kependudukan dan KB di daerah masih bervariasi. Ada yang berbentuk dinas, badan, atau kantor KB, atau digabung dengan berbagai urusan yang dianggap tidak menghasilkan pendapatan daerah secara langsung.



Oleh: Haryono Suyono- Mantan Menko Kesra RI
Maka, meskipun masalah ke­pendudukan makin kompleks dan bervariasi, penanganan masalah kependudukan tidak berjalan mulus. Tanpa perhatian serius, persoalan akan bertambah ruwet dan dampaknya sangat fa­tal karena bisa merembet ke arah tekanan politik, sosial ekonomi, bahkan kriminal akibat tekanan kepadatan yang tidak lagi bisa ditolerir.

Dua puluh tahun terakhir masalah kependudukan berubah drastis. Tahun 1960, 1970, dan 1980-an kita menghadapi tambahan jumlah bayi yang luar biasa (baby boom), tekanan kepa­datan penduduk di Pulau Jawa, tingkat pendidikan yang rendah, dan tingkat kemiskinan pendu­duk yang tinggi. Untuk mengatasinya, saat itu pemerintah menggelar program KB, transmigrasi, penyediaan fasilitas pen­didikan dasar yang sangat luas, dan program pengentasan orang miskin.

Transisi demografi
Peningkatan jumlah bayi yang sangat menonjol menyebabkan transisi demografi yang dahsyat sehingga struktur dan pertumbuhan penduduk berubah. Tahun 1970-an jumlah penduduk di bawah usia 15 tahun hampir sama dengan jumlah penduduk usia 15-60 tahun, sedangkan pendu­duk usia lanjut di atas 60 tahun masih kurang dari 5 juta jiwa Tahun 2011 jumlah penduduk su­dah mencapai lebih dari 240 juta dan strukturnya menjadi sangat dewasa. Penduduk di bawah usia 15 tahun tidak banyak berubah karena keluarga Indonesia umumnya ikut program KB.
Akan tetapi, bayi-bayi yang lahir sepanjang 1960-1980-an
menjadi dewasa dengan tingkat kematian rendah. Maka, jumlah penduduk usia 15-60 tahun "meledak" menjadi di atas 150 juta. Ledakan generasi muda ini diikuti pula oleh ledakan penduduk lanjut usia yang semula di bawah 5 juta menjadi 20 juta jiwa.
Karena penanganan program KB agak "semrawuf' dengan komitmen, kelembagaan dan strategi yang kurang pas, sepuluh tahun terakhir ini terjadi kenaikan tingkat kelahiran dari 2,3 anak tahun 2000-an menjadi sekitar 2,6 anak tahun 2007-2009, dan tahun 2010 bisa lebih tinggi. Ketiga peristiwa itu menyebab­kan pertumbuhan penduduk bu­kan seperti angka rata-rata 1,49 persen selama sepuluh tahun, tetapi bisa 1,5, 1,6, bahkan 1,7 persen tiap tahun.
Pertumbuhan itu karena adanya ledakan baby boomers yang menjadi dewasa, kenaikan pen­duduk lanjut usia yang dahsyat, dan kenaikan kembali tingkat ke­lahiran di Indonesia. Semua ini menjadikan masalah kependu­dukan di Indonesia bukan lagi hanya maraknya kelahiran bayi, melainkan suatu ledakan penduduk (population expiation) yang sangat berbahaya.
Ledakan penduduk diperparah oleh perubahan ciri pendu­duk. Kalau tahun 1970-an hanya ada 20 persen penduduk di perkotaan, jumlah itu sekarang meledak menjadi lebih dari 50 per­sen. Secara fisik jumlahnya lebih dahsyat. Tahun 1970-an jumlah penduduk perkotaan hanya 20-25 juta

Meningkat luar biasa
Tahun 2011 jumlah penduduk perkotaan menjadi 120 juta atau lebih, meningkat 550-600 per­sen. Mereka bukan anak-anak di bawah usia 15 tahun, tetapi umumnya penduduk dewasa dan lansia dengan perbandingan pen­duduk anak-anak dengan penduduk dewasa dan lansia sebagai satu berbanding tiga.

Anak-anak yang dominan pada masa lalu - kalau dianggap masalah - bisa ditangani dengan penyediaan pelayanan kesehatan yang memadai, sekolah dan kelengkapan pakaian seperlunya. Akan tetapi, 170 juta-180 juta penduduk dewasa dan lansia yang sebagian besar adalah pen­duduk urban pasti tidak puas dengan pelayanan sederhana; Jalan-jalan di perkotaan menjadi sangat padat dan macet, mereka perlu fasilitas rekreasi, makanah lengkap yang bukan hanya susu, dan penggantian kebutuhan se­kolah dengan tuntutan lapangan kerja dengan upah cukup.
Kepadatan Pulau Jawa tidak lagi mudah ditolong dengan transmigrasi beriming-iming ta-nah 2 hektar tetapi perlu dilengkapi fasilitas dan penghasilan yang cukup untuk bisa pulang kampung sewaktu-waktu. Ke­miskinan di masa lalu digantikan kemiskinan dengan tingkat sofistikasi yang maha kompleks.
Masyarakat miskin masa lalu bisa dianggap penurut karena umumnya tidak sekolah, tinggal di desa, dan menjadi buruh tani. Namun, dewasa ini penduduk miskin itu sebagian adalah re-maja, orang dewasa dan lansia yang putus sekolah, hampir 50 persen penduduk urban, tidak bekerja dengan baik. Kalaupun bekerja, jenis pekerjaannya tidak memadai untuk menghidupi ke­luarga. Mereka tidak lagi penu­rut, tetapi bisa menjadi masyarakat yang sangat emosional.
Untuk memecahkan kondisi kependudukan seperti itulah berbagai rapat kerja kependudukan di daerah seharusnya diarahkan. Bukan sekadar mengatasi masa­lah ledakan kelahiran, melainkan merupakan langkah sungguh-sungguh untuk mengatasi ledakan penduduk yang aspeknya multidimensi dan serba kompleks. Semoga mendapatkan perhatian yang proporsional.

Keterangan Gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet
Sumber :  Harian Kompas tanggal 5 April 2011

No comments:

Post a Comment